Kata yang Tercecer


Pada tulisan kali ini RuangKata menampilkan sekumpulan Kata ndak jelasnya Mas Azer pada postingan FBnya di tahun 2017. 

  • "Jangan sandarkan harapmu di pundakku. Aku tidak punya masa untuk memenuhinya. Tidak juga untuk sekedar menuntaskan rasa. Adapun perihal rindu, aku tak perlu menjelaskan apapun tentangnya. Buat apa?! Biarkan saja ia dengan segala ketidak-pengertiannya."

  • "Bisa nggak 'nggak kangen' aku?"

  • "Cinta itu seperti apa aku tidak tahu. Dan aku tak ambil peduli dengan apapun definisi tentangnya. Yang penting bagiku, bisa berhubungan denganmu membuatku merasa nyaman."

  • "Berpura-puralah bahagia, sampai kau lupa jika kau sedang berpura-pura."

  • Aku tidak ke mana. Jika rindu, temui saja aku di hatimu.

  • Kita tidak sedang dalam lirik lagu, kan? Yang tanpa suara dalam 30 menit.

  • Menekuri cinta yang mati? Huh, aku tidak sebodoh dan semenyedihkan itu!

  • Lelah akan menyerah dengan sendirinya. So, teruslah melangkah. Jangan takut kalah!

  • Mengapa kau takut dengan keheningan? Mengertilah, dalam hening ada suara yang tidak menggunakan kata-kata. Coba dengarkan ...

  • Bila sampai tiba waktu, dan tak juga malaikat menjelma. Biar kuberharap pada hujan agar larutkan puisi-puisiku.

  • Aku tak mengenal kata perpisahan sekalipun sepasang raga kita tidak disatukan. Sebab perasaan akan senantiasa sama semenjak cinta diciptakan sekalipun kita tidak disandingkan. Begitulah seharusnya hati yang mencintai kecintaan.

  • "Bila tidak ragamu, biarkan aku memiliki pantai dan senjamu. Tak mengapa. Sekadar untukku mengelabui rindu yang enggan usai."

  • Puisiku yang bagimu serupa sayap-sayap tak lain hanyalah sebatas seni yang kumainkan untuk mengelabui belenggu-belenggu kehidupanku.

  • Adakalanya dunia memudarkan keindahan. Bicaralah padaku, Duhai Kebijakan, saat kegelisahan mengerat hati.

  • Dan lagi, kita saling diam. Terpaksa, Sayang, kugantung rindu pada mendung. Membiarkan gemuruh gelegar bingung yang kian meraung. Mengabaikannya sampai hatiku linglung.

  • Kalah-menang urusan belakang. Yah, setidaknya kita pernah berjuang. Jangan salahkan masalah, jika mulai merasa lelah, pasrahkan lillah.

  • Jika aku mau, akan terlalu mudah untuk mengalah pada waktu. Menusuk jantungku sendiri, lalu mati tanpa mimpi. Tapi aku tidak sebodoh itu. Sebab, aku masih mampu menertawakan luka-luka yang semakin terluka.

  • "Segala hal boleh berubah, tapi tidak denganku tentangmu."

  • Kamu tahu, dalam diam kubawa puisi-puisimu dalam puisiku. Dan di hadapan malam, aku membacakannya bersama jiwa-jiwa yang terlupa.

  • Di atas bentang sajadah itu ... namamu selalu turut bersimpuh.

  • Bukankah Tuhan itu bekerja dengan cara 'misterius'? Bahkan, kita tidak mampu mencerna "CARA TUHAN".

  • Jangan, jangan ikuti jalan kesendirianku yang sebengis kematian. Biar aku saja. Karena aku sudah terbiasa menikmatinya.

  • Pada akhirnya, kata yang terencana tak menemukan muaranya.

  • Bukan, hidupku bukan seberapa yang aku miliki, melainkan seberapa yang aku nikmati.

  • Kututup malam dengan sebuah rasa yang hanya bisa kuceritakan pada puisi yang tak tercipta. *Lelaplah lelahku.

  • Hmmm ... bagaimana mengatakannya? Kesan pertamaku saat melihatmu adalah ... Aku benci padamu!

  • Percayalah! Anjing yang sedang menggonggong tidak menggigit.

  • Saat melihatmu, semua kesedihan memudar. Aku seperti di padang hijau saat senja hari.

  • Teman yang baik adalah teman yang selalu bicara benar kepadamu, bukan orang yang selalu membenarkan ucapanmu.

  • Suguhkan aku secangkir kopi, aku akan mengatasi pagi.

  • Setelah senja, rindu bertiup manja. Aku terbenam!

  • Tidak ada yang tidak berguna selama seseorang mau meringankan beban orang lain.

  • Adakalanya pujangga diam.

  • Pada akhirnya kita tidak memiliki apapun, kecuali rindu yang candu.

  • Sebab kata-katamu adalah kualitas dirimu.

  • Setia itu bukan sebatas omong kosong janji sehidup-semati.

  • Jika kata-kata hanya kata ... Apa jadinya?

  • Kututup malam bersama sebait doa yang menyertaimu. Selamat malam, Angin.

  • Pagi. Kuseruput secangkir kopi sisa semalam, juga sisa-sisa pikiran yang tak kunjung mengering.

  • "Ibarat padi, aku masih terlalu kosong jika dipaksa menunduk."

  • Laut, kabarkan rindu itu ... dan sampaikan bahwa aku baik-baik saja.

  • Di titik ini, kau akan dapati kosong saat membelah dadaku.

  • Aku menemukan surga pada paras cahayamu.

  • Letakkan harapanmu pada Yang Pasti. Jika kau salah menyandarkan harapan ... Kau harus siap KECEWA.

  • Berharap pada ketidakpastian adalah pembodohan.

  • Tidak ada yang benar-benar mampu hidup dalam kesendirian. Bahkan keindahan Surga tak mampu menghapus kesepian Adam sebelum tercipta Hawa.

  • Pegang hatimu! Dan, Rasakan aku ...

  • Aku bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu rasakan.

  • Meski dalam 'satu', dia bukanlah aku. Tapi aku adalah dia.

  • Matahari memelukku sepenuh bara. Dan aku menggigil.

  • Cinta. Untuk sementara, aku menafsirkannya sebagai godaan yang sebengis kematian. Boleh?




ATAU

Baca Selanjutnya Baca Sebelumnya
Komentar Netizen
Tulis Komentarmu
comment url