Cerita Mini - Aku Suka Kamu


Semuanya berawal dari kata.


Kau duduk di seberang meja. Mata lentikmu tertuju ke arah lelaki yang sedang duduk berseberangan denganmu. Lelaki berkulit kecokelatan yang dengan santainya menyeruput cappuccino. Ya, lelaki itu adalah aku.


Melihat gelagatmu -yang sejak pesanan kopi datang- tidak melepas pandangan dariku, sepertinya kau begitu menanti tanggapanku perihal pertanyaan cinta yang baru saja kau utarakan.


"Hm. Aku tidak begitu mengerti apa itu cinta pertama yang kau sakralkan," Kuletakkan cangkir di atas meja, membenahi posisi duduk. Lalu kulempar pandangan ke luar cafe, menembus dinding kaca, menikmati pemandangan kerlap-kerlip lampu jalanan malam. Suara deru kendaraan tak terdengar, kalah dengan suara musik di mini cafe pilihanmu. "Apalagi soal mitos cinta pada pandangan pertama. Aku tidak tahu apa-apa tentang cinta. Secara, aku bukan pakar cinta. Tapi jika kau terus mendesakku untuk menguraikan tentang hal itu, akan kuuraikan puing-puing kata yang terpecah di kepala gulitaku."


Aku beralih menatap ke arahmu yang masih tak melepas pandangan ke arahku. Mata kita beradu pandang. "Begini, Kie. Bagiku makna cinta itu luas, sangat luas. Tapi akan kukerucutkan cinta yang kau kehendaki, yakni cinta yang arahnya terhadap lawan jenis. Bukankah seperti itu?"


Kau ber-hmm sembari mengangguk kecil.
Sial, aku jadi sangat suka gayamu yang seperti itu di dunia nyata, ketimbang dalam chat yang malah membuatku berpikiran lain.


"Cinta," lanjutku. Kini aku menatap wajahnya, "sederhana saja, entah itu datang yang ketiga atau ke sekian kalinya. Entah itu pandangan pertama atau tanpa pandangan. Bagiku sama saja. Cinta ya cinta. Hanya saja, tergantung bagaimana si pecinta itu menyikapinya.


"Cinta. Kata banyak orang adalah anugerah. Aku setuju. Dan anugerah seharusnya mengarah menuju kebaikan atau perbaikan. Bukan justru merusak apalagi sampai mengoyak 'mahkota' sebelum waktunya, seperti yang banyak terjadi dengan mengatas-namakan cinta. Kau tahu, Kie. Bila hal itu terjadi, maka hitamlah asmara putih. Hilanglah makna 'anugerah' dalam cinta. Justru yang timbul adalah nafsu berlebel cinta.


"Jadi, Kie. Cinta ya cinta itu sendiri, yang arah sebenarnya adalah kebaikan. Itu saja sih.
Untuk masalah definisi cinta, menurutku itu terserah kepala masing-masing pecinta, karena mereka yang merasakannya. Dan aku tidak begitu ambil pusing."


Kau melepas senyum tipis. Tampak lega sekarang. Menyeruput secangkir white coffee yang sedari tadi menunggu kecupan bibir manismu.


Lagi, aku terpesona untuk ke sekian kali; melihat caramu menempelkan bibir di cangkir itu, membuatku berharap bisa menggantikan posisinya.


"Btw. Apa pertemuan kita ini cuma ingin membicarakan hal ini?" Kau tersenyum. Senyuman yang berbeda dari senyum-senyum yang kulihat di potret mayamu. Lihat, garis bibirmu itu ada sirat warna manja, dan ah, aku sungguh tak bisa melukiskan pesona yang terpoles indah di hadapanku kini. Bahkan bulan separuh di langit malam minggu ini turut tersipu pada ayumu.


"Aku bertanya dan kau cuma tersenyum begitu. Ayolah, jangan buat aku penasaran."


Sebenarnya, selain pada kata-katamu, aku memendam perasaan pada anggunmu. Kau, gadis yang kukenal dari dunia maya bisa begitu dekat sampai sejauh ini. Di dunia maya kita sama kagum pada karakter tulisan satu sama lain. Namun kali ini berbeda, pada pertemuan pertama di dunia nyata, kau jauh lebih dari yang kubayangkan sebelumnya, dan karakter aslimu lebih menggoda hatiku. Hanya saja, aku tak punya keberanian mengungkapkan rasa. Takut. Takut bila akhirnya kau meninggalkanku lantaran itu. Aku memilih memendamnya. Asal bisa bersamamu, asal bisa dekat denganmu, asal bisa sering melihat senyummu itu sudah lebih membahagiakan.


Kau menarik napas. 
"Azer …" Kau tersenyum lagi, membuatku jadi salah tingkah. Dengan tatapan bening dan penuh arti kau melepaskan kata, "Aku suka kamu."


Usai. 
By: Azer



ATAU

Baca Selanjutnya Baca Sebelumnya
Komentar Netizen
Tulis Komentarmu
comment url