Niscaya


 

~ N I S C A Y A ~

_____________

Aku membuka kenangan, membaca barisan pesan yang pernah kita torehkan. 
Terhenyak aku pada sebait pesan terakhirmu, Nona.
“Mungkin aku akan hilang, tapi senja akan selalu ada untukmu, Tuan.”
~ Nona

Sebelumnya, aku terperangkap pada kata 'hilang'  yang membuatku turut kehilangan kata untuk membalas pesanmu itu. Terlanjur kacau dan keruh pikiranku dari segala perihal tafsir kata. Terperangkap kegalauan yang tak terjemahkan.

Berbeda dengan kali ini. Kala aku kembali membaca dalam sejuk dada dan tenang hening. Pikiranku lebih terikat pada kata 'mungkin' yang kau goreskan di awal kalimat pesanmu. Entah kau sengaja atau tidak, yang jelas aku jadi bisa menyimpulkan sebuah arti bahwa 'hilang'mu masih sebatas kemungkinan.

Lalu di akhir pesanmu, Nona, kau menghadiahi aku sebuah harapan akan senja.

“... tapi senja akan selalu ada untukmu, Tuan.”

Senja; satu waktu dengan suasana yang ramah, langit jingganya yang indah mempesona seperti rona kemerahan di pipimu itu, Nona.

Senja: satu nuansa yang menyimpan jutaan kemanisan romansa bagi puisi-puisi yang kuciptakan untukmu. 

 Senja: Satu nama yang aku sematkan padamu. Seorang Nona rupawan yang menjelma paras menawan melebihi indah senja.Meski kemampuanku masih sebatas menyebutmu; Gadis Senja.


Lantas, Nona.
Seusai kueja kalimat pesanmu, kurangkaikan pesan manis terakhirmu ke dalam kalimat rabaanku. Dari sebuah gerangan menuju ke arah keniscayaan. Mecnciptakan kata pada akhirnya;

Nona, selama senja masih ada, selama itu juga kau selalu ada.
Demi engkau, Gadis Senjaku ... hatiku akan selalu senja sampai nanti. Selama kata 'mungkin' yang kau jadikan gerangan berkenan meniscayakan senjaku dan senjamu dalam langit yang satu.


Mas Azer
20121

ATAU

Baca Selanjutnya Baca Sebelumnya
Komentar Netizen
Tulis Komentarmu
comment url