Puisi - Syajarotut Thoybah



S Y A J A R O T U T T H O Y B A H ( Tanah )


Seperti airmata yang hujan karena kehilangan, atau seperti duka, dari hilangnya waktu tanpa sempat menyatakan bahagia.

Seperti cinta, berkorban karenanya, lalu menemukan sepenggal doa, agar dijauhkan dari airmata, yang menguras cahaya.

Seperti kalaini, katakata diutarakan laksana doa, agar sampai pada cahaya, menagih setiap mata tak kehilangan suburnya.

Barangkali, airmata tak sempat membasuh lukaluka, yang tandas tanpa curah cahaya, tandus mairat bahagia.

Barangkali, sepotong hati telah berjubal onak dan duri, tajam dan menyemak, matanya permata, semakar batu menusuknusuk mata.

Matamata melelah semarak, sorotnya badai menyentak, meluluh-lantak kuilkuil petapa dan wadahwadah pengembara.

Digelayang nafasnafas hingga sumbang, luntang-lantung tersilap, menggelap; yang semestinya tenang, terkungkung dan terkekang.

Termata-mata hanya tersua silau di sanding jalan, sementara yang terdalam rindu rindang, hendak menemui cerlang, atas berkalang jamur berkalung kabur; mengarah sembuh atas buntu menyembah batu.

Gagal makna;
yang begitu birahi meniduri katakata, bermuluk-muluk memanen sepadi arti di ladangladang puisi, sedangkan selalu betah, berhala zaman bocahbocah, bermain tanah tanpa berbenih dan berbenah.


iR) WOGSU'

ATAU

Baca Selanjutnya Baca Sebelumnya
Komentar Netizen
Tulis Komentarmu
comment url