Puisi - Sabda Tinta




S A B D A  T I N T A


Takkan selesai, tintatinta berkata kata-cinta, diseduh dan dituang laksana lautan yang dalam. ia mengalir ke mana perasaan terpasah dan mengarah, tak puas jelanak jadi hujan, mengguyur daluang- daluang kosong. 

Adalah Qoiz, berLaela membangun tulangtulang harapan, dari papa dan tertulang, berkolam tinta menggurat puisipuisi miring, yang tandas tersua malang. 

Hingga romansa Raja Alengka, sudi menculik Dewi Shinta, ditempatkannya di jantung Argasoka; taman Rahvana yang seiras surga. Diperanginya seribu pasukan wanara, menagih kemenangan, yang kemunca kandas tertarung kekalahan.

Takkan habis ia, ditimba banyak sambat dan keluh-kisah, entah menoreh bahagia atau menaruh duka. Takkan kering mengampas hingga pungkas cerita.

Adalah makam, yang hidup di dada Syah Jehan, diabadikan tubuhtubuh Mumtaz Mahal, menanggung duka kehilangan yang menyulut kemegahan kenang; Permata Kerajaan.

Hingga sepasang ramarama terbang membawa gembira, jelmaan dari kesedihan, ketulusan dan kematian; Hasrat Sampek yang tak pernah sampai kepada Engtay. 

Takkan tuntas katakata, mendulang harap atas jalan cinta, yang tertubuh di jantung anakanak manusia, ia seperti tumbuh, rimbun dan terpohon, berbuah manis dan kadang tersajak ironis.

Adalah kata Fatimah “Jika ada tanah yang tumbuh di tepi sungai ini, maka itulah kuburan kami”; 
pohon cinta di tanah Kemaro, berpunca dari amarah Tan Bun Ann, yang karam bersama emas dan kekasihnya.

Hingga malam yang dibakar dengan jerami, dan suarasuara lesung kecurangan Roro Junggrang, menyulut geram di dada Bandung Bondowoso; memahat genap atas patah arang seribu arca.


ir )' W O G S U

ATAU

Baca Selanjutnya Baca Sebelumnya
Komentar Netizen
Tulis Komentarmu
comment url