Sebelas


Angka 11.
Setelah kejadian itu aku menyebutnya sebagai angka yang murni keparat, angka yang mewakili penderitaan. Angka nestapa.

*Satu hari setelah tanggal 11 di bulan 11 Pukul 11 pm.
Jendela kamar kubiarkan terbuka agar bulan pucat separuh itu tetap tertangkap mataku, biar bulan pucat separuh itu menjadi gambaran hatiku yang juga pucat dan hilang separuh.

Alam berwaktu dan aku mulai jenuh. Sedari tadi hanya duduk bersandar resah di kursi putar, sesekali kubuka kembali jutaan kenangan yang terkubur di layar ponsel pemberianmu. Senyum kesedihanku selalu saja mengambang setiap membaca sisa-sisa chat denganmu yang penuh romantika. Juga potret kebersamaan kita dahulu; pesta berdua di kamar ini berteman aneka jajanan ilegal yang terlarang. Kita justru menyebutnya hidangan suci lantas teler bersama penuh bahagia. Sampai di baris chat akhir kau mengirimkan gambar jari lentik kelingkingmu yang kubalas dengan gambar serupa; kelingking kasar seorang lelaki yang setia menanti kepulanganmu dari seberang negeri. Kupikir, itu semacam tanda janji untuk tidak berpisah.

Nyutt!
Mengingat kejadian kemarin di tanggal sebelas bulan sebelas, dadaku berdenyut nyeri. Terpukul. Panas merah mataku dibasahi air kepedihan yang kucoba tahan sekuatnya agar tidak mengalir.

Sialll! Tak kupedulikan lagi bulan pucat separuh yang sudah jauh beranjak dari posisi semula, sebab nyatanya hatiku masih tertahan di posisi yang sama; pucat, rapuh dan separuh. Hanya senyum bibir yang kupaksa untuk menyiasati luka, meski pada akhirnya tetap memudar dalam geram.

Sepertiga malam. Di luar jendela yang terbuka, kulihat embun kian merendah, mengecup beku daun-daun hingga tanah. Angin berhembusan di kegelapan.

Inikah waktu yang katanya Tuhan yang Pengasih turun bersama malaikatnya demi menyambangi hambanya? Jika memang begitu, kenapa Dia selalu menjatuhkanku ke jurang nestapa? Terpuruk sendirian menyesapi luka nanah. Andai Kau tahu, Tuhan! Dulu, sebelum petaka yang kata mereka itu ulah takdirMu yang dengan tega membantai habis keluargaku dengan kematian tragis, aku pernah rajin beribadah, berbuat baik kepada sesama dan menjalankan yang Kau sebut perintahMu. Tapi, Kau sama sekali tidak menjauhkan derita dariku. Kau malah merenggut semua kebahagiaanku begitu saja, seenakMu. Sampai akhirnya aku lelah dan berhenti berharap dengan apapun tentangMu. Kau tidak ada, atau ada yang mengada-ngada.

Baiklah. Malam ini, jika Kau benar ada, kesedihan apa lagi yang hendak Kau anugerahkan padaku?!
Klap! Lampu mati. Sosok hitam yang mungkin adalah utusan kematian tertawa lebar di hadapanku, penuh suka cita. Sekejap kemudian aku jatuh luruh di tubuh bumi. Tak berdaya.

***

Pada tanggal sebelas bulan sebelas Pukul sebelas lewat sebelas aku dan kekasihku masih berbalas chat.

[Tetaplah bersamaku]

[Aku akan selalu ada untukmu]

[Berjanjilah!]
Kau kiriman gambar jari kelingking nan lentik. Satu jari dari satuan jemari yang dulu pernah kugenggam erat, jemari yang dengannya kita memainkan cinta sedalam nista.

[Janji]
Ganti aku mengirimkan gambar kelingkingku.

Sebenarnya aku merasa ada keganjilan dari chat yang kau kirimkan kali ini. Soalnya beberapa menit yang lalu kau bilang sudah dalam pesawat dan siap lepas landas. Entahlah, mungkin di pesawat negeri tempatmu bekerja diperbolehkan menggunakan ponsel. Kulanjut saja menghisap hembuskan asap kenikmatan.Aku sudah tidak sabar menung besok, hari di mana kita akan bertemu kembali, Sayang.

Tak berselang lama telepon berdering. Dari temanku.
"Cepat kau nyalakan televisi berita sekarang!" ucapnya tergesa.

"Ada apa?" balasku kesal.

"Nyalakan saja!" bentaknya.

Sial! Klik! Latar televisi menyala. "Cuma suguhan berita kecelakaan pesawat," gerutuku. "Apa tidak ada acara yang lebih menarik?"

"Bodoh! Lihat nama di nomor 11 dalam daftar tewas!"

Segera kutelusuri layar TV. Ponselku terlepas, aku terpaku di angka 11. Ada namamu, Sayang, tertera di sana. Lututku lemas. Tuhan, ini ulahMu, kan? Tragedi pukul 11.11 pm tanggal 11 bulan 11. Waktu yang sama percis dengan chat terakhirmu.

***

Tetiba mataku terbuka. Sedikit pusing.
"Uh, sepertinya aku tadi bersama makhluk hitam serupa utusan kematian, ke mana dia?"

Ah, bukannya seharusnya aku ini sudah mati, tapi aku tak melihat yang namanya surga, tidak juga aku menikmati yang disebut neraka. Ah, memang omong kosong itu tidak pernah nyata. Tapi di sini bisakah kutemukan gadisku. Ah, di mana sebenarnya aku ini? Kediaman Tuhankah? Gila!

"Kau berada dalam ruang nomor 11 di kediaman Tuan kami."
Aku segera menoleh ke arah datangnya suara. Sesosok hampir serupa manusia namun bentuknya tidak karuan dengan sekujur tubuh hitam legam. Sepertinya makhluk ini yang tadi membuatku tidak sadarkan diri.

"Tuanmu?" tanyaku.

"Betul, dan kini Tuan kau juga."

"Siapa dia?"

"Iblis!"


End 
Selesai di Negeri Embuh, 17.03.17

ATAU

Baca Selanjutnya Baca Sebelumnya