Seorang Lelaki dan Pantai Senja




Keperkasaan siang sudah jauh hilang direnggut malam. Sudah lebih dari enam jam yang lalu.

Di teras lantai dua, seorang lelaki dengan wajah suram terduduk diam di atas kursi tua sambil membuka-buka buku coretannya, buku yang berisi tulisan perihal kisah cintanya yang mengambang. Buku coretan yang baginya selalu menawarkan aroma rindu setiap kali membuka halamannya. Aroma rindu yang yang mewangikan bayang kekasihnya yang kini entah di mana. Sesekali ia menatap langit dan berlagak menghitungi jumlah bintang, lantas bergumam, "Andai kau lihat, Nona. Kawanan bintang di atas sana masih tidak mampu menyaingi jumlah rinduku padamu."

Kemudian sang lelaki menyoretkan kata di bukunya;

Nona, kapan kau kembali pada lelakimu ini?
Senja dan pantai yang kau tinggalkan selalu memanggil-manggil namamu setiap kali aku mengunjunginya. Begitupun aku dan jiwaku yang senantiasa merindukanmu. Saban menjelang senja aku tidak pernah telat mengunjungi pantai kesayanganmu, sekadar mengobati rindu yang enggan usai. Aku sadar rindu tidak akan terobati sepenuhnya, sebab rindu tidak benar-benar terobati kecuali dengan anugerah pertemuan.

Ah, Nona. Di bawah wajah bulan yang muram ini aku tuliskan sebuah puisi perihal senja dan pantai yang dulu selalu menjadi tempat paling manis bagi kita. Bukan apa-apa, aku cuma ingin sedikit membawamu menjelajahi kenangan dan segala keindahan yang ingatannya layak untuk kau jemput.


PANTAI SENJA

Nona, ingatkah kau pada senja?
tentang harapan yang pernah kita gantung di langit jingga
lembayung itu, Nona
merona di pipimu

Nona, ingatkah kau pada pantai?
yang mengecupi nama kita di atas pasir
juga kecupmu, Nona
hanyut di bibirku

Kini di antara bias mega
siluet itu merupa bayangmu
terus begitu
sampai nanti waktu melepaskan senja

Kini di antara buih ombak
debur itu membasahi hatiku
terus begitu
sampai nanti aku meninggalkan pantai

Maka, Nona
setiap sebelum senja berpulang
kepada camar kutitipkan puisi-puisi rindu
sampaikah ia padamu?

usai.

Sang lelaki tersenyum sambil membaca ulang puisinya. Kemudian ia kembali menghadapkan pandangannya ke arah langit. "Entah sampai kapan aku akan terus mengunjungi pantai senjamu. Sepertinyanya memang tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Sampai kapanpun aku akan terus menyambut jingga di langit senja sembari menikmati kecupan basah pantaimu ..."

Angin berembus membelai tirai jendela dan rambutnya. Sang lelaki memejamkan mata.

    Heumh ...
    Kala itu, adalah kala kita
    Kala kini, adalah kala kata


Mas Azer

ATAU

Baca Selanjutnya Baca Sebelumnya
Komentar Netizen
Tulis Komentarmu
comment url